Kamis, November 23, 2017

Apa Kabar Maya Rumantir?

Album kenangan manis Maya saat berjumpa Bunda Teressa dari Calcutta.

Wajah cantik dengan lesung pipit nan indah milik penyanyi kelahiran Ujung Pandang 2 April 1964 ini sempat menghiasi  layar kaca dan media masa nasional di masa kurun waktu sebelum tahun 1995-an . Siapa yang tidak kenal Maya Rumantir? Di masa remajanya, Maya dikenal sebagai salah satu penyanyi papan atas di tanah air yang mempunyai suara merdu.

Berbagai penghargaan dan prestasi telah diraihnya sejak kecil hingga remaja, baik itu penghargaan di bidang seni suara maupun modeling. Selain dikarunai bakat menyanyi, Maya juga sangat berbakat menciptakan lagu. 

Di awali pada tahun 1976, Maya Rumantir meraih juara Favourite Children Pop Singer se Ujung Pandang. Kemudian meraih Queen of BASF Indonesia 1980. Selain itu Maya juga dinobatkan sebagai Top Model Indonesia 1988-1989.  Semasa jayanya ini, Maya Rumantir juga dikenal sebagai penyanyi kesayangan Puspen (Pusat Penerangan)  ABRI (sekarang TNI). 

Namun sejalan dengan itu, Maya tidak terus terhanyut oleh pujian dan ketenaran yang telah dirainya dengan susah payah tersebut. Maya tiada lupa mensyukuri kemurahan Tuhan atas karunia hidup yang telah diberikan kepadanya. Cara Maya bersyukur adalah dengan membagikan kebahagiaan bagi orang lain dengan tujuan agar taraf hidup mereka menjadi lebih baik di masa mendatang.

Salah satu cara agar taraf hidup seseorang menjadi lebih baik di masa depan adalah dengan melalui pendidikan.

Untuk itulah maka Maya membulatkan hati dan tekadnya untuk fokus, terjun langsung di dunia pendidikan bagi masa depan generasi muda penerus bangsa. 

Salah satu sumbangan besarnya bagi bangsa Indonesia yang dicintainya adalah dengan mendirikan Institut Pengembangan Sumber Daya Manusia (IPSDM) Maya Gita.  Lembaga pendidikan ini didirikan pada tanggal 6 Maret 1989 di Jakarta. Pendirian IPSDM Maya Gita telah tercatat dalam sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia sebagai pionir pertama yang melembagakan pengembangan sumber daya manusia dalam sebuah wadah institut. 

Di tahun itu juga, Maya mendirikan Yayasan Bhakti Pertiwi. Yayasan ini didirikan sebagai wadah berbagai kegiatan sosial bagi masyarakat. Kiprah Yayasan Bhakti Pertiwi di bidang sosial selain di seluruh nusantara, juga tercatat hingga ke tanah Calcutta, India. Karya nyata bagi kemanusiaan di nusantara dan di belahan bumi lainnya telah menyentuh hati banyak orang. 

Saat di Calcutta, Maya beruntung dapat bertemu langsung dengan Bunda Teressa. Bunda Teressa dikenal dunia sebagai seorang biarawati sederhana yang mengabdikan diri dalam misi kemanusiaan tanpa membedakan ras, suku, atau golongan.

Rasa cinta Maya pada tanah airnya Indonesia pun telah  diwujudkannya secara dalam sebuah program acara yang ditayangkan di TVRI Pusat. Dia mempelopori program acara televisi Pandu Prestasi Putera Pertiwi (P4) dengan tujuan mulia yaitu mempererat tali persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan mengedepankan toleransi, Maya  sangat yakin bahwa perbedaan bukan menipiskan cinta tapi cinta yang menipiskan perbedaan.

“Kemajemukan kita adalah keindahan kita sebab itu adalah karunia dan kebesaran Tuhan. Bukankah itu kekayaan bangsa kita yang tak ternilai?” ungkap Maya. 

Itulah sebabnya, hingga kini, dalam setiap karya dan kegiatannya, Maya selalu menjunjung tinggi makna toleransi yang telah begitu melekat di darah dan dagingnya. (re)

0 komentar:

Posting Komentar