Mari curahkan kasih dan wujudkan "Indonesia Bersinar"

Jumat, Desember 22, 2017

Spesial di Hari Ibu, Maya Mengajak Ibunya Jalan-jalan dan Makan

Jarang yang tahu keseharian Maya Rumantir.  Bila mengikuti kesehariannya, maka siapa pun akan cepat menyimpulkan bahwa Maya Rumantir adalah sosok sederhana dalam kesehariannya. Nama besar yang disandangnya sejak remaja hingga saat ini tidak pernah merubah pribadi Maya, perempuan berlesung pipit itu sama seperti perempuan pada umumnya.  Maya selalu berusaha bangun paling pagi agar dapat berdoa pagi dan segera mengurus keperluan sekolah anaknya serta memastikan bahwa suaminya pergi ke kantor dalam keadaan perut yang sudah terisi sarapan. 

Apa makanan favorit Maya? Semua menu makanan, Maya  dapat menikmatinya tanpa pilih-pilih. Maya tidak sulit dalam hal makan. Sepiring nasi putih dengan lauk telur mata sapi plus kecap sudah cukup apabila di rumah belum sempat berbelanja. Sepiring nasi goreng dengan sambal ikan roa (sambal khas Manado) juga boleh.

Kesederhanaannya itu juga ditularkan kepada Kiara, buah cintanya bersama suami tercinta  Takala Hutasoit. Sederhana bukan berarti pelit, sederhana adalah menikmati karunia hidup apa adanya dengan tidak berlebihan. Seperti saat Kiara lapar setelah menemani Maya menghadiri sebuah acara, Kiara  ingin makan soto Betawi. Maya pun pencinta kuliner soto Betawi. Maya gemar makan soto Betawi dengan campuran daging yang meriah alias komplit, campuran daging ditambah paru, kikil, dan babat. Lain dengan Kiara, putri cantik Maya itu tidak pernah menyukai paru, kikil, apalagi babat. 

Maya mengatakan kepada Kiara, sebaiknya beli satu mangkuk saja  dengan campuran daging plus paru, kikil serta babat. Sebab apabila beli dua mangkuk (Kiara soto daging dan Maya soto campur) maka nanti akan mubazir alias terbuang percuma mengingat satu porsi soto Betawi di rumah makan tersebut sangat banyak untuk ukuran perut keduanya. Kiara tidak akan sanggup menghabiskan satu porsi soto tersebut. Membuang-buang makanan bagi Maya  tidak  baik mengingat makanan yang tersaji di atas meja adalah rejeki dari Tuhan. Kiara menyetujuinya dan keduanya pun makan dengan lahap ditemani nasi putih hangat. 

Di usianya yang sudah lebih setengah abad, Maya sebenarnya mulai membatasi makanan seperti kikil, jeroan, dan babat. Intinya boleh makan makanan seperti itu, tetapi dengan jumlah secukupnya saja. Itulah sebabnya Maya memilih makan soto tersebut berdua dengan anaknya.


Maya tidak hanya sosok perempuan sederhana, perempuan kelahiran Makasar  53 tahun yang lalu ini juga sangat  menyayangi Ibunya Brigitta Els Rumantir (89). Bagi Maya, Ibundanya adalah segalanya. sebab tanpa doa dan restu ibu maka Maya merasa tidak bisa menjadi seperti sekarang ini. Ia ingin selalu bersama Ibunya tersebut.  Sejak kecil hingga di usianya yang sudah lebih dari kepala lima ini, Maya masih senang menciumi pipi dan kening Ibunya. Ciuman inilah yang membuat Ibunya selalu merindukan kehadiran Maya. 

Apabila Maya keluar rumah beberapa saat lamanya saja maka Ibunya sudah kangen luar biasa, mencari-cari Maya.  Maya pun tidak akan sampai hati membiarkan Ibunya yang selalu penuh rindu. Maya pasti cepat pulang apabila urusan pekerjaan maupun kegiatan pelayanannya sudah selesai agar bisa merawat Ibunya. Dalam urusan menjaga dan merawat Ibunya yang sudah sepuh itu, Maya melakukan dengan tangannya sendiri. Maya selalu memperhatikan  menu makanan yang sehat bagi orang tuanya itu. Ketelatenan dan ketulusan hati Maya mengurus orang tuanya itu berbuah manis, Oma  Brigitta Els Rumantir nampak senantiasa sehat dan bahagia di hari tuanya. 

Maya merasa beruntung mempunyi sosok ibu teladan  seperti Ibu Brigitta Els Rumantir. Begitu pula sebaliknya, Ibu Briggitta Els Rumantir juga sangat bersyukur kepada Tuhan sebab memiliki anak sebaik Maya, seorang anak yang penuh bakti kepada orang tuanya.

Jelaslah, siapa pun kita, harus berusaha berjuang menjadi sosok Ibu yang kelak dapat menjadi contoh atau panutan yang baik bagi anak-anaknya.

Untuk merayakan hari Ibu yang jatuh bertepatan dengan hari libur 22 Desember 2017, Maya mengajak Ibunda terkasih jalan-jalan dan makan-makan di rumah makan yang lokasinya tidak jauh dari rumah kediaman keluarganya. “Selamat Hari Ibu untuk Semua Perempuan Hebat di Seluruh Indonesia.” (re)

Kamis, Desember 21, 2017

Lewat Suara Merdu Maya, Lukisan untuk Panti Asuhan Yatim-Piatu Laku Terjual


Belasan lukisan milik pengusaha nasional dan pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Hj Dewi Motik Pramono, Rabu (20/12/2017) berhasil terjual. Hasil penjualan lukisan tersebut akan disumbangkan untuk sebuah panti asuhan yatim-piatu. 

Dalam kesempatan penjualan lukisan untuk dana amal tersebut Maya Rumantir yang turut hadir sebagai undangan pada acara  Meet & Greet Mother’s Day secara spontan menyumbangkan 2 buah lagu tempo doeloe. Harapannya semoga lewat lagu yang dilantunkannya tersebut maka para tamu yang hadir tergerak menyisihkan rejekinya untuk membeli lukisan yang dibandrol dengan harga mulai dari Rp500.000 hingga Rp1 juta. 

Tak disangka, tidak sampai setengah jam, belasan lukisan indah telah terjual habis pada  acara memperingati Hari Ibu yang diselenggarakan oleh komunitas Wise Women, Forum Alumni EWW, Anugerah Perempuan Indonesia, dan Women CEO di Gedung Permata Kuningan.





Sebelumnya, Maya Rumantir juga diminta panitia untuk menyampaikan pengalamannya sebagai seorang Ibu. 

Maya menceritakan pengalamannya sebagai ibu dari putri tunggal satu-satunya Kristamya Kiara Oliveralda Tiurnauli Hutasoit (12 tahun).

Kiara menurut Maya sejak kecil mempunyai rayuan andalannya apabila menginginkan sesuatu. Hanya dengan mengatakan dua kata “Please Mama” maka hati Maya pasti langsung luluh seketika.

“Kalau Kiara sudah bilang please...please...maka  saya tidak tega deh,” ungkap Maya saat menceritakan masa kecil Kiara yang memohon untuk membuka celengan tabungan uang jajannya di rumah. 

Akhirnya Kiara yang pada waktu itu masih duduk di bangku SD membuka tabungannya tanpa sepengetahuan Maya.   

“Saya tidak tahu. Karena dia masih kecil maka diambilnya uang tabungannya itu dan dimasukkan ke dalam amplop. Mungkin bukan tentang jumlah nominalnya ya. Nah saat saya datang ambil rapot, gurunya cerita kepada saya sambil nangis hingga mengeluarkan air mata.” 

Ibu Guru tersebut mengatakan kepada Maya bahwa pernah mendapatkan uang dan juga surat dari Kiara.  Ibu Guru rupanya ingin mengkonfirmasi apakah Maya tahu atau tidak tentang hal itu.

Tentu saja Maya tidak mengerti,  uang apa?



Ternyata Kiara telah memberikan uang Rp20.000 dari uang tabungannya dengan disertai selembar surat yang sangat mengharukan bagi Bu Yuli, guru kelas Kiara di SD.

Dalam suart itu  Kiara menuliskan bahwa Kiara tidak bisa kasih apa-apa untuk Ibu Yuli , tapi ini buat bantu-bantu beli obat. Mudah-mudahan bisa membantu sehingga suami Ibu Yuli cepat sembuh. Salam... Love, Kiara.

Ibu Yuli menjelaskan kepada Maya waktu itu bahwa bukan hanya dirinya, ternyata teman-temannya di kelas selalu dikasih surat oleh Kiara dan selalu ada gambar hati. 

Sesampainya di rumah Maya bertanya kepada Kiara mengapa tidak memberitahu  Mama. Kiara menjawabnya dengan polos. Menurut Kiara, Mamanya juga kalau kasih orang-orang tidak bilang-bilang. Katanya, tidak boleh bilang-bilang kalau kasih kado orang-orang.

Maya sungguh bersyukur, bahwa buah hatinya tersebut memberi apa adanya dalam kesederhanaan, bukan dalam kemewahan. 

“Saya juga bersyukur mempunyai ibu pendoa. Ibu selalu mendoakan kami, ke-8 anak-anaknya Ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi semua anak-anaknya berhasil dalam pendidikan meraih gelar sarjana,” katanya.

Sebagai seorang Ibu, Maya mengaku harus memutuskan pilihan demi tumbuh kembang buah hatinya. Wanita yang kini berusia 53 tahun ini bersyukur karena mendapat teladan dari Ibunya.  Saat Maya mengandung, dia harus mengambil keputusan,  harus pilih mana. Berhenti sejenak dari berbagai kesibukan yang padat (antara lain menggawangi program TVRI Putra Prestasi Pandu Pertiwi yang sangat populer pada waktu itu). Ini terjadi saat Maya mengalami pendarahan untuk yang ke-3 kalinya. Karena pernikahan atau berumah tangga bagi Maya merupakan panggilan, maka  Maya memilih untuk lebih fokus memperhatikan kesehatan kandungannya.

Putra Prestasi Pandu Pertiwi adalah sebuah acara yang kerap membicarakan Pancasila, merah putih, dan makna Bhineka Tunggal Ika dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Setelah Kiara tumbuh besar, Maya kembali berkarya lagi bagi bangsa dan negara. Maya sempat menjadi Senator RI utusan Sulawesi Utara dengan suara terbanyak. Saat Maya Rumantir mencalonkan diri sebagai gubernur di Sulut, Maya mengundurkan diri sebagai senator karena menurutnya setiap upaya atau niat yang baik memerlukan totalitas baik berupa pikiran, waktu, dan tenaga.

Di akhir pembicaraannya, Maya berpesan semoga kita semua terutama kaum ibu gembira saja terus. Apa pun persoalan hidup sehari-hari jangan dibawa pikiran terlalu banyak. Artinya dalam hidup di dunia ini tidak ada yang tidak punya problem. Tapi yang penting sekarang, hati yang gembira adalah obat yang manjur.





Sebelum turun panggung, Maya dikejutkan dengan kehadiran Kiara yang datang ke atas panggung, mengucapkan selamat Hari Ibu kepada Maya. Kiara mengungkapkan sangat mencintai Maya dan berterimakasih karena telah dirawat penuh kasih sayang sejak kecil hingga kini. Mendapat kejutan tersebut Maya sangat terharu dan langsung mencium dan memeluk Kiara. (re)


Senin, Desember 04, 2017

Brigitta Els Rumantir (89 Tahun), Seorang Ibu yang Indah Luar dan Dalam

Memperingati hari ulang tahun bagi keluarga besar Rumantir bukan semata-mata sebuah ritual rutin kumpul-kumpul keluarga merayakan anugerah hidup yang ditandai dengan umur panjang. Lebih dari itu, ulang tahun adalah sebuah momen penting menaikkan ucapan puji dan syukur kepada Allah Pencipta. 

Pada hari Jumat 1 Nov 2017 siang kemarin, seluruh keluarga besar Rumantir, Hutasoit, dan warga Katholik di lingkungan kediaman Maya Rumantir Hutasoit di Cipete-Jakarta Selatan mengikuti Misa ulang tahun Ny Brigitta Els Rumantir  yang ke-89.  Misa tersebut dipimpin Pastor RD. Rofinus Neto Wuli, S.Fil, M.Si (Han).

Ny Brigitta Els Rumantir di tengah-tengah putra-putri dan menantu tercinta
Di usianya yang sudah sepuh, wanita kelahiran Makasar 30 November 1928 nampak terlihat tetap sehat, segar, energik. Paras cantiknya pun seakan masih belum memudar. Selain itu, Oma Brigitta yang hanya dikenal sebagai ibu rumah tangga biasa ini ternyata telah menghantarkan ke-8 putra dan putrinya menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan, mencintai negara NKRI, dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan sosial-masyarakat dimana pun mereka berdomisili. 

Menurut Pastor Rofinus yang akrab dipanggil Ronny, rahasia bugar Oma Brigitta di masa tuanya ini yaitu karena Oma Brigitta indah luar dan dalam. Selain dianugerahi paras cantik, ternyata Oma Brigitta adalah seorang ibu pendoa yang setia bagi anak-anaknya, bagi masyarakat di sekitarnya, dan juga negara Indonesia yang dicintainya.  Jiwa yang indah adalah jiwa yang selalu rindu dekat dengan Tuhan Sang Pencipta dan setia membaca firman Tuhan. Jadi dengan demikian Oma Brigitta merupakan sosok panutan yang dapat dicontoh bagi generasi muda yang hidup di jaman "now", generasi milenia.


Aktivitas Pastor Ronny sebagai Pastor Moderator Lembaga Vox Point Indonesia (VPI) bersama Maya Rumantir Hutasoit,  menghantarkan  Pastor Ronny bersama rekan lainnya di VPI beberapa kali melakukan rangkaian diskusi di kediaman Maya. Dalam kesempatan tersebut, jelas Pastor Ronny, dia bertemu langsung dengan sosok ibu kandung Maya Rumantir sehingga sedikit demi sedikit dapat mengenal pribadi Oma Brigitta. 

VPI merupakan sebuah lembaga yang diharapkan menjadi sarana bagi para awam Katolik untuk berkontribusi nyata dalam kegiatan sosial politik di tanah air Indonesia. Ada pun latar belakang anggota VPI berasal dari berbagai profesi seperti pengusaha, politisi aktivis HAM, pegiat Gereja, birokrat, akademisi, purnawirawan TNI/Polri, pekerja media, dll.

Senada dengan ungkapan Pastor Ronny tersebut, Maya pun mengaku sangat mengagumi Ibundanya. Ibunda Brigitta setia memberikan waktunya untuk Tuhan. Sosok Ibundanya yang seorang pendoa tersebut menjadi inspirasi bagi anak-anaknya maupun cucu serta cicitnya agar berusaha menjadi pribadi yang indah luar dan dalam.  

Ketika kita banyak mengerti tentang suara Tuhan dan firman-Nya, maka kita akan dapatkan hal yang indah, yaitu Tuhan membentuk jiwa kita. Kehendak atau setiap keinginan akan  dikendalikan oleh Roh Kudus sehingga insan manusia dapat menjadi pribadi yang indah luar dan dalam 

Menurut Maya, setiap manusia dapat menjadi pribadi yang kuat jika hidup dalam firman Tuhan. 

"Yang penting dalam hidup ini adalah kuat dalam firman Tuhan," ungkap Maya.
Maya Rumantir Hutasoit bersama suami, anak, dan ibunda 

Ternyata ada sebuah lagu yang diciptakan Maya Rumantir sebelum  dirinya dipersunting oleh Ir. Takala Gerald Manumpak Hutasoit. Lagu tersebut diberi judul 'Indah Luar dan Dalam." 

"Saat ingin mengenal Yesus Al-Masih, saya berusaha terus belajar. Saya ingin memberikan waktu yang terbanyak bagi-Nya, Tuhan. Saya mau mendengarkan suara Tuhan, membaca firman Tuhan dan juga melayani pekerjaan Tuhan," kata ibu dari seorang remaja putri bernama Kiara Hutasoit ini. 

Lanjut Maya, Talking with Love berbeda dengan Talking about Love. Mungkin banyak orang yang banyak belajar tentang firman Tuhan pandai berbicara tentang firman Tuhan (Talking about Love). Tetapi yang Tuhan tuntut juga dari setiap  kita umatnya adalah mempunyai waktu atau menyediakan waktu untuk Talking with Love, punya waktu berbicara dengan Tuhan.

Pada kesempatan acara ulang tahun tersebut, Ny Brigitta Els Rumantir beserta anak-anak dan menantunya mendapat kado istimewa dari Uskup Agung KAJ Mgr. Ignatius Suharyo, yaitu berupa kalung Rosario merah-putih yang telah diberkatinya secara langsung.

Kebahagian Oma Brigitta semakin lengkap dengan kehadiran maupun doa-doa dari semua putra-putri, menantu dan cucu-cucunya tercinta, baik yang berdomisili di Jakarta, Makasar, Canada, dan USA. (re)

🎂 Selamat Ulang Tahun ke-89 Brigitta Els Rumantir 🎂


Kamis, November 23, 2017

Apa Kabar Maya Rumantir?

Album kenangan manis Maya saat berjumpa Bunda Teressa dari Calcutta.

Wajah cantik dengan lesung pipit nan indah milik penyanyi kelahiran Ujung Pandang 2 April 1964 ini sempat menghiasi  layar kaca dan media masa nasional di masa kurun waktu sebelum tahun 1995-an . Siapa yang tidak kenal Maya Rumantir? Di masa remajanya, Maya dikenal sebagai salah satu penyanyi papan atas di tanah air yang mempunyai suara merdu.

Berbagai penghargaan dan prestasi telah diraihnya sejak kecil hingga remaja, baik itu penghargaan di bidang seni suara maupun modeling. Selain dikarunai bakat menyanyi, Maya juga sangat berbakat menciptakan lagu. 

Di awali pada tahun 1976, Maya Rumantir meraih juara Favourite Children Pop Singer se Ujung Pandang. Kemudian meraih Queen of BASF Indonesia 1980. Selain itu Maya juga dinobatkan sebagai Top Model Indonesia 1988-1989.  Semasa jayanya ini, Maya Rumantir juga dikenal sebagai penyanyi kesayangan Puspen (Pusat Penerangan)  ABRI (sekarang TNI). 

Namun sejalan dengan itu, Maya tidak terus terhanyut oleh pujian dan ketenaran yang telah dirainya dengan susah payah tersebut. Maya tiada lupa mensyukuri kemurahan Tuhan atas karunia hidup yang telah diberikan kepadanya. Cara Maya bersyukur adalah dengan membagikan kebahagiaan bagi orang lain dengan tujuan agar taraf hidup mereka menjadi lebih baik di masa mendatang.

Salah satu cara agar taraf hidup seseorang menjadi lebih baik di masa depan adalah dengan melalui pendidikan.

Untuk itulah maka Maya membulatkan hati dan tekadnya untuk fokus, terjun langsung di dunia pendidikan bagi masa depan generasi muda penerus bangsa. 

Salah satu sumbangan besarnya bagi bangsa Indonesia yang dicintainya adalah dengan mendirikan Institut Pengembangan Sumber Daya Manusia (IPSDM) Maya Gita.  Lembaga pendidikan ini didirikan pada tanggal 6 Maret 1989 di Jakarta. Pendirian IPSDM Maya Gita telah tercatat dalam sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia sebagai pionir pertama yang melembagakan pengembangan sumber daya manusia dalam sebuah wadah institut. 

Di tahun itu juga, Maya mendirikan Yayasan Bhakti Pertiwi. Yayasan ini didirikan sebagai wadah berbagai kegiatan sosial bagi masyarakat. Kiprah Yayasan Bhakti Pertiwi di bidang sosial selain di seluruh nusantara, juga tercatat hingga ke tanah Calcutta, India. Karya nyata bagi kemanusiaan di nusantara dan di belahan bumi lainnya telah menyentuh hati banyak orang. 

Saat di Calcutta, Maya beruntung dapat bertemu langsung dengan Bunda Teressa. Bunda Teressa dikenal dunia sebagai seorang biarawati sederhana yang mengabdikan diri dalam misi kemanusiaan tanpa membedakan ras, suku, atau golongan.

Rasa cinta Maya pada tanah airnya Indonesia pun telah  diwujudkannya secara dalam sebuah program acara yang ditayangkan di TVRI Pusat. Dia mempelopori program acara televisi Pandu Prestasi Putera Pertiwi (P4) dengan tujuan mulia yaitu mempererat tali persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan mengedepankan toleransi, Maya  sangat yakin bahwa perbedaan bukan menipiskan cinta tapi cinta yang menipiskan perbedaan.

“Kemajemukan kita adalah keindahan kita sebab itu adalah karunia dan kebesaran Tuhan. Bukankah itu kekayaan bangsa kita yang tak ternilai?” ungkap Maya. 

Itulah sebabnya, hingga kini, dalam setiap karya dan kegiatannya, Maya selalu menjunjung tinggi makna toleransi yang telah begitu melekat di darah dan dagingnya. (re)